PERENCANAAN PENULISAN KARYA ILMIAH

Untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bagus, seorang penulis harus terlebih dahulu merencanakannya dengan matang, berikut ini beberapa langkah dalam perencanaan penulisan ilmiah :

A. Pemilihan Topik
Pemilihan topik merupakan hal terpenting dalam penulisan ilmiah, karena pemilihan topik menentukan batasan-batasan isi atau permasalahan yang akan dibahas selanjutnya. Dalam memilih topik karya ilmiah, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
- topik yang dipilih hendaknya menarik untuk dikaji.
- topik jangan terlalu luas dan terlalu sempit.
- topik yang dipilih sesuai dengan mminat dan kemampuan penulis.
- topik yang dikaji hendaknya ada manfaatnya untuk menambah ilmu pengetahuan atau berkaitan dengan profesi.

B. Pembatasan Masalah
Seorang penulis harus membatasi topik yang akan digarapnya. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup dan terbatas sehingga tulisannya dapat terfokus.

C. Pemilihan Judul
Pemilihan judul, akan menggambarkan tingkat kedalaman dan cakupan dari sebuag penelitian yang akan dibahas. Bagi pembaca, judul akan dianggap mewakili bobot sebuah hasil penelitian yang ditulis, bahkan merupakan gambaran mutu tulisan yang akan digarap.

D. Menentukan Tujuan Penulisan
Menetapkan tujuan yaitu menyampaikan maksud dari penulisan karya ilmiah atau penelitian yang akan di buat, sehingga pembaca dapat mengetahui manfaat yang diperoleh dari karangan ilmiah tersebut. Namun kita harus seksama, sering kali penulis memberikan tujuan yang sangat luas sehingga topik yang dibahas keluar dari apa yang sudah dibataskan.

E. Menentukan Variabel Penelitian
 variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel penelitian ditentukan oleh Landasan Teorinya dan ditegaskam oleh Hipotesis penelitiannya.
Menurut datanya, variabel penelitian dapat dibedakan : a. variabel Nominal, b. Variabel Ordinal, c. Variabel Interval d. Variabel ratio.
Sedangkan menurut fungsinya variabel penenelitian dapat dibedakan menjadi : Variabel tergantung, variabel bebas, variabel intervening, variabel moderator , variabel kendali dan variabel rambang.
Macam-macam hubungan variabel : Simetri, timbal balik dan asimetri.

F. Hasil Penelitian
 Melaporkan hasil penelitian.  Langkah inilah yang sesungguhnya merupakan proses penulisan karangan ilmiah. Pada langkah ini kita telah menyusun sebuah karya tulis ilmiah yang akan memberikan manfaat bagi pembaca.

*Sumber : http://fzahrah.blogspot.com/2013/12/perencanaan-penulisan-karangan-ilmiah.html
               https://navelmangelep.wordpress.com/2011/12/30/variabel-variabel-dalam-penelitian/
               http://fogigof.blogspot.com/2012/12/perencanaan-penulisan-karangan-ilmiah.html

0 komentar:

KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Dengan kata lain, kalimat efektif mampu  menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pendengar atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis.

Suatu kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika memiliki beberapa syarat sebagai berikut:

1. Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
2. Tidak menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan maksud sang penulis.
3. Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepat.
4. Sistematis dan tidak bertele-tele.

Berikut ini definisi kalimat efektif menurut para ahli :
5. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
6. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan: 2001)
7. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
8. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
Berdasarkan definisi kalimat efektif menurut para ahli dapat kita simpulkan bahwa suatu kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila sesuai dengan kaidah bahasa, jelas dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca kalimat tersebut.
Ciri – Ciri Kalimat Efektif
Suatu kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila kalimat tersebut sesuai dengan kaidah bahasa, jelas dan mudah dipahami. untuk mencapai keefektifan, suatu kalimat paling tidak harus memenuhi 6 syarat berikut ini :
1. Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. melihat dari definisinya kesepadanan itu sangan penting dalam membuat suatu kalimat, misalkan kita memiliki pikiran atau gagasan yang baik tetapi struktur bahasa yang dipakai tidak beraturan tentunya gagasan yang kita miliki tersebut tidak dapat tersampaikan dengan baik. Berikut ini ciri – ciri kesepadanan kalimat :
A. Kalimat tersebut mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
Untuk membuat kalimat mempunyai subjek dan predikat yang jelas dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh :
• Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (salah)
• Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (benar)

B. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh :
• Penyusunan makalah itu saya dibantu oleh dosen.(salah)
• Dalam menyusun makalah itu, saya dibantu oleh para dosen.(benar)

C. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :
• Budi semalam tidak belajar. Sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya.(salah)
• Budi semalam tidak belajar, sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya. (benar)

D. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang
Contoh :
• Budi yang sedang membaca buku. (salah)
• Budi sedang membaca buku. (benar)

2. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat tersebut. Maksudnya, kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga harus menggunakan verba.

3. Ketegasan
Ketegasan pada suatu kalimat adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Untuk membuat ide pokok kalimat tersebut lebih terlihat dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :
A. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat.
Contoh :
Dosen mengharapkan agar mahasiswa dapat mengumpulkan tugasnya dengan tepat waktu.
Penekanannya ialah dosen mengharapkan.
B. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh :
• Bukan seribu, sepuluh, seratus tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
Jika kalimat tersebut diurutkan secara bertahap maka akan tampak seperti ini
• Bukan sepuluh, seratus, seribu tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
C. Melakukan pengulangan kata(repetisi)
Contoh:
• Saya suka dengan kesopanannya, saya suka dengan sifatnya itu.
D. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
• Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
E. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
• Saudaralah yang bertanggung jawab.

4. Kehematan
Kehematan pada kalimat efektif adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, dan bentuk lainnya yang dianggap tidak perlu di dalam suatu kalimat. Kehematan disini bukan berarti menghilangkan kata – kata yang dapat membantu memperkuat arti suatu kalimat. Maksud dari kehematan disini adalah penghematan terhadap suatu kata yang tidak diperlukan sejauh tidak melanggar tata bahasa. Untuk melakukan kehematan terhadap kalimat ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan :
A. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh :
• Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu
Kehematan dari kalimat itu adalah :
• Karena tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu.
B. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata
Contoh :
• Di mana kamu menabrak hewan kucing ini ?
Kata kucing pada kalimat tersebut sudah menjelaskan bahwa itu hewan, maka kehematan kalimat tersebut adalah :
• Di mana kamu menabrak kucing ini ?
C. Penghimatan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh :
• Dia hanya membawa badannya saja.
Kehematan dari kalimat itu adalah
• Dia hanya membawa badannya.
D. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata – kata yang berbentuk jamak.
Contoh :
• Bentuk tidak baku : para tamu – tamu , beberapa orang.
Kalimat efektifnya :
• Bentuk jamak : para tamu, beberapa orang

5. Kecermatan
Yang dimaksud dengan kecermatan dalam kalimat adalah kalimat tersebut tidak memiliki makna ganda.
Contoh :
• Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Pada kalimat ini terdapat 2 makna yaitu :
a) Satu sekolah yang telah menyumbang dua kali. Dan
b) Terdapat 2 sekolah yang menyumbang.

6. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah – pecah.
A. Kalimat yang padu itu tidak bertele – tele dan tidak mencermirkan cara berpikir yang tidak simestris, oleh karena itu hindari kalimat yang bertele – tele.
Contoh :
• Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
• Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (efektif)
B. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh :
• Buku itu saya sudah kembalikan.
Kalimat efektifnya :
• Buku itu sudah saya kembalikan.
C. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
• Buku ini akan membahas tentang kalimat efektif dan EYD.
Kalimat efektifnya :
• Buku ini akan membahas kalimat efektif dan EYD.

7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan adalah ide di dalam kalimat tersebut dapat diterima oleh akal dan penulisan kata – katanya harus sesuai dengan EYD.

Sumber: http://www.kelasindonesia.com/2015/02/pengertian-kalimat-efektif-adalah-beserta-contoh-lengkap.html
http://dimasihsanprasetyo.blogspot.co.id/2013/11/makalah-penggunaan-eyd-dan-pemakaian.html
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-kalimat-efektif-lengkap-beserta-contohnya/

0 komentar:

KATA DAN PILIHAN KATA

Kata dan Pilihan Kata

1. Pengertian
Kata secara sederhana adalah sekumpulan huruf yang mempunyai arti. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti tersendiri, yaitu kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. kata juga mengandung arti, sederetan huruf yang diapit dua spasi dan mempunyai arti.

Diksi adalah ketepatan pilihan kata untuk menyatakan sesuatu. Diksi atau pilihan kata pada dasarnya adalah hasil upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alinea, atau wacana. Diksi atau pilihan kata merupakan satu unsur yang sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari.


Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.


1.1 Imbuhan Dari Bahasa Asing


Selain imbuhan yang berasal dari B.Indonesia sendiri (-kan, me-, di-, dan lain-lain), kita juga mengenal imbuhan asing. Imbuhan asing ini sudah diserap dan disesuaikan dengan ejaan yang baku, EYD.

Imbuhan yang berasal dari asing itu adalah:

A. SANSEKERTA (-man , -wan, -wati)

a. Imbuhan –man
Ciri:
  •  diletakkan pada kata yang berakhir dengan vokal –i
  •  Menunjukkan laki-laki
  •  Fungsi : menbentuk kata benda
  •  Makna : orang yang. . .
Contoh:seniman, budiman
b. Imbuhan –wan
Ciri :
  •       Diletakkan pada kata yang berakhir dengan vokal selain –i
  •       Menunjukkan laki-laki
  •       Fungsi : membentuk kata benda dan sifat
  •       Makna : orang yang. . .
Contoh : cendekiawan , wartawan
c. Imbuhan –wati
Ciri :
  •      Sejalan dengan akhiran-wan
  •      Menunjukkan wanita
  •      Makna : orang yang. . .
Contoh : peragawati , olahragawati

B. ARAB ( -i, -wi, -iah )

Ciri :
  •           Diletakkan pada kata yang berakhir dengan vokal-a
  •           Makna : mempunyai sifat
  •           Fungsi : membentuk kata sifat / kata benda
Contoh : surgawi , duniawi

C. EROPA ( -is, -isme, -isasi )

i. Imbuhan –is
Ciri :
  •        Berasal dari bahasa belanda
  •        Makna : “yang bersifat” atau “orang yang . .”
  •        Fungsi : membentuk kata sifat atau kata benda
Contoh: teoritis , aktivis
ii. Imbuhan –isme
Ciri :
  •           Berasal dari bahasa belanda
  •           Makna : aliran atau paham
  •           Fungsi : membentuk kata benda
Contoh : komunisme , kapitalisme
iii. Imbuhan –isasi
Ciri :
  •  Berasal dari bahasa inggris
  •  Makna : proses
  • Fungsi : membentuk kata benda
Contoh : urbanisasi , imunisasi
Contoh kata-kata berimbuhan asing tersebut adalah:
- seniman (asal kata: seni)
- hartawan (asal kata: harta)
- wartawati (asal kata: warta)
- insani (asal kata: insan)
- duniawi (asal kata: dunia)
- lahiriah (asal kata: lahir)
- praktis (asal kata: praktik)
- materialistis (asal kata: material)
- spesialisasi (asal kata: spesial)


1.3 Upaya PengIndonesiaan


Di dalam upaya pengIndonesiaan, memang ada beberapa tahap yang dilakukan. Tahap itu antara lain adalah penerjemahan dan penyerapan. Penerjemaahan dilakukan dengan memanfaatkan antara lain, kosakata Bahasa Indonesia sebagai padanannya. Ada pertimbangan dalam penerjemahan itu, yakni ketepatan terjemahan dengan konsepnya. hal ini penting agar istilah terjemahan itu tidak berbeda dengan konsep istilah asingnya. caranya dapat dilakukan melalui terjemahan kata perkata (harafiah) ataupun melalui pengalhan konsepnya.

contoh :
Up grading diterjemahkan secara langsung menjadi penataran. sementara itu, money lundring diterjemahkan dengan pencucian uang. Istilah ini dalam bahasa asingnya terdiri dari dua unsur, yaitu money 'uang' dan undring 'pencucian'.

1.4 Hubungan Makna Kata


Makna adalah hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya. [1] Makna merupakan bentuk responsi dari stimulus yang diperoleh pemeran dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki.

Ujaran manusia itu mengandung makna yang utuh. Keutuhan makna itu merupakan perpaduan dari empat aspek, yakni pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone), dan amanat (intension). Memahami aspek itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari usaha untuk memahami makna dalam komunikasi.

Hubungan Makna

1. Sinonim adalah kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan makna.
Contoh:Siuman=sadar,datang=tiba=sampai

2. Antonim adalah kata-kata yang memiliki makna berlawanan.

Contoh:besar-kecil,atas-bawah,siang-malam
Antonim dibedakan menjadi:
a.Antonim kembar :Putra-putri,dewa-dewi,pemuda-pemudi.
b.Antonim gradual :Panjang-pendek,tinggi-rendah,tua-muda.
c.Antonim relasional :Suami-istri,guru-murid,penjual-pembeli.
d.Antonim majemuk :Emas-perak,gelang-kalung,pintu-jendela,dan sebagainya
e.Antonim hierarkis :Jendral-kopral,kilometer-meter,dan sebagainya.

3. Polisemi adalah suatu kata yang memiliki makna ganda.Namun demikian,diantara makna tersebut masih

terdapat hubungan makna:
Contoh :Anak saya sakit(keturunan)
Ia anak buahku(bawaan)
Hati-hati,anak tangga itu rapuh(bagian tangga yang di injak)

4. Hiponim adalah suatu kata yang maknanya telah mencakup oleh kata yang lain.Hubungan makna kata satu

dengan yang lain akan menghasilkan kata(superordinat dan subordinat)
Pakaian Superordinat(hipernim)
Baju Celana Kaos Subordinat(hiponim)
kohiponim

5. Hipernim adalah suatu kata yang maknanya mencakup kata lain.

Contoh: Bunga
Melati Menur Mawar

6. Homonim adalah kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbada artinya.

Contoh :Bulan ini adikku menikah,malam ini bulan tidak bersinar

7. Homofon adalah kata-kata yang memiliki bunyi yang sama tetapi ejaan dan artinya berbeda

Contoh :saya tidak sangsi lagi.
Yang melanggar akan mendapatkan sanksi.
Dilarang masuk dalam ladang perburuan.
Kita harus mentaati Undang-undang Perburuan.

8. Homograf adalah kata-kata yang memiliki tulisan sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.

Contoh :Ia tidak tahu tentang masalah itu.
Nenekku suka makan tahu.

Catatan:Homonim sering dikacaukan dengan polisemi.Keduanya mempunyai perbedaan seperti sebagai berikut:


No Homonim No Polisemi


1. Berupa dua kata atau lebuh 1. Berasal dari satu kata

2. Tidak ada hubungan arti 2. Ada hubungan arti
3. Dipergunakan secara denotatif 3. Dipergunakan secara konotatif kecuali kata induk
4. Contoh: Bisa ular bisa mengakibatkan kematian 4. Contoh: Kepala kantor iu sedang sakit kepala

0 komentar:

UCAPAN DAN EJAAN DALAM BAHASA INDONESIA

A.    UCAPAN

Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penuturnya adalah bahasa kedua.Para penutur yang berbahasa Indonesia, bahasa Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh itu dapat berkenaan dengan semua aspek ketatabahasaan. Pengaruh yang sangat jelas ialah dalam bidang ucapan. Pengaruh dalam ucapan itu sulit dihindarkan dan menjadi ciri yang membedakan ucapan penutur bahasa Indonesia dari daerah satu dengan daerah yang lain. Sering dengan mudah kita dapat menentukan daerah asal seorang penutur berdasarkan ucapan bahasa Indonesianya.

B.     EJAAN

1.            Pengantar
Ejaan penting sekali artinya dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia produktif tulis. Dalam tulis-menulis orang dituntut untuk dapat menyusun kalimat dengan baik, memilih kata yang tepat, mengeja kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku, yaitu EYD.
Sebelum EYD diumumkan, dalam tulis menulis digunakan Ejaan Soewandi atau ejaan Republik. Ejaan tersebut diumumkan berlakunya terhitung mulai 19 Maret 1947. Sebelum ejaan Soewandi berlaku, Ejaan Van Ophuysen yang ketentuannya dimuat dalam Kitab Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’Mur dan Muhammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dinyatakan mulai berlaku sejak tahun 1901, sebelum ejaan Van Ophuysen berlaku dalam bahasa Melayu, digunakan huruf Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf Latin dengan ejaan yang tidak teratur.

2.            Pengenalan Huruf

a.      Penulisan Huruf Kapital
Huruf kapital digunakan untuk mengawali kalimat yang baru. Huruf Kapital digunakan seperti pada huruf awal nama diri, ucapan langsung seseorang, dan juga sebagai huruf pertama yang berhubungan dengan Tuhan dan Kitab Suci.

Berikut ini adalah beberapa contoh kata pengganti dalam huruf kapital:
·         Kata ganti Tuhan yang ditulis dengan huruf kapital
Contoh:
Kita semua dapat hadir karena berkat Nikmat serta Rahmat-Nya.
                  Hanya kepada Engkaulah tempat hamba meminta.

·         Kata ganti nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau keagamaan.
Contoh:
      Manusia pertama di bumi adalah Nabi Adam.
      Haji Yahya memberikan santunan kepada anak yatim itu.

·         Kata ganti nama jabatan sebagai pengganti nama diri.
Contoh:
Gubernur Banten memberikan himbauan kepada masyarakat agar menjaga lingkungan.
Direktur PT. Makmur Jaya mendapatkan sanksi karena keterlambatan membayar pajak.
     
      Kata “anda” yang dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan terbitan yang lama cukup ditulis dengan huruf kecil dalam edisi tahun 1988 ditetapkan harus diawali dengan huruf kapital. Jadi dengan ditetapkannya penulisan “Anda” yang diawali dengan huruf kapital tidak ada lagi kata “Anda” yang diawali dengan huruf kecil.    
      Kemudian kata-kata yang digunakan dalam artian khusus harus ditulis dengan huruf kapital, sedangkan kata-kata dengan pengertian umum ditulis dengan huruf kecil. Kata presiden, gubernur, universitas, atau fakultas misalnya, dalam pengetian umum ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: Seorang pelajar akan melanjutkan studi pembelajaran ke universitas setelah tamat dari bangku SMA.

*Dalam pengertian khusus kata-kata tersebut diawali dengan huruf kapital:
Contoh:
Semboyan Negara Kesatuan Replublik Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika.
Presiden Amerika Serikat yang mengunjungi Indonesia sangat terpukau akan keindahan yang dimilikinya.
                 
                                               
b.      Huruf Tebal dan Huruf Miring
Seperti halnya nama lembaga, judul buku atau karangan kata-katanya harus diawali dengan huruf kapital. Keucali yang berupa kata tugas.  Berbeda dnegan nama lembaga, judul buku atau nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal. Apabila ditulis dengan tangan, kata-kata yang merupakan judul buku ini harus diberi garis bawah.
Contoh: Pedoman Ilmu Tajwid
              1001 Macam Obat Herbal

Apabila judul naskah yang belum diterbitkan sebagai buku seperti naskah skripsi atau tesis cukup ditulis dengan tanda petik (“...”).
Contoh: “Efek yang Muncul Penggunaan Cuka pada Pembuatan Tempe”.
              “Akuntansi Keuangan dengan Menggunakan Standar IFRS”.

                             Apabila judul tersebut sudah tercetak, maka ditulis dengan huruf miring.
Contoh: “Efek yang Muncul Penggunaan Cuka pada Pembuatan Tempe”.
              “Akuntansi Keuangan dengan Menggunakan Standar IFRS”.

Judul karangan yang dimuat dalam majalah atau dalam buku kumpulan karangan, atau judul satu bab dari suatu buku yang harus ditulis dengan huruf miring, kalau diketik atau ditulis tangan diantara tanda petik. Contohnya:

1.  Karangan Drs. Budi Darmawan yang berjudul “Bahasa Inggris Lengkap” dimuat dalam buku Kamus Lengkap Bahasa Inggris Populer.
2.  Karangan Djoko Kencono yang berjudul “Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia“ dimuat dalam buku Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru.

Huruf miring dipergunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan kata, bagian kata atau kelompok kata. Contohnya:
1.      Huruf pertama kata detik adalah d.
2.      Dia bukan merampok tetapi dirampok. (“me-“ dan “di-“ ditulis miring)

Huruf miring digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing yang belum disesuaikan ejaannya. Contohnya:
Nama ilmiah buah manggis adalah carcinia mongostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Dalam beberapa buku kadang huruf tebal tidak dipergunakan dan yang dipergunakan adalah huruf miring. Dalam hal ini huruf miring digunakan untuk judul buku dan majalah.


3.            Penulisan Artikel dan Awalan
Dalam menulis kata-kata sesuai dengan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan perlu diperhatikan penulisan kata atau partikel yang dirangkaikan dan yang tidak dirangkaikan.
Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu adi-misalnya pada adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana. Juga awalan awa- pada awabau, awaair, awawarna, awasuara. Awalanawa- ini digunakan untuk mengindonesiakan awalan de- pada kata-kata pinjaman dari bahasa Inggris dan Belanda seperti deodorant, dehidrasi, devoice yang artinya ‘penghilangan’ atau ‘alat untuk menghilangkan’. Juga mala- seperti malabentuk, malapraktik, malagizi.

Kata antara ditulis terpisah, tetapi antar- ditulis serangkai. Contohnya:
1.   Angkutan umum di daerah Bogor tidak melayani jurusanantarkota.
2.   Jembatan yang akan dibangun di tengah laut akan menghubungkan antarpulau.

Kata maha apabila dirangkai dengan kata dasar ditulis serangkai. Contohnya:
1.    Hanya Tuhan yang Mahaadil.
2.    Mahasiswa Universitas Gunadarma itu mengalami kecelakaan hebat.

Tetapi apabila dirangkai dengan kata bentukan tidak dirangkaikan. Contohnya:
1.    Hanya Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.
2.    Dia-lah yang Maha Pengampun.

Yang dikecualikan dari ketentuan diatas adalah kata Maha Esa yang meskipun kata maha itu dirangkai dengan kata dasar, tetapi harus dipisah Ejaan yang benar menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ialah Tuhan yang Maha Esa.
           
Bentuk-bentuk lain yang dirangkai ialah awalan pra-, pasca-, pramu-, purna-, tuna-, Contohnya:
1.    Sistem swasembada yang diterapkan pemerintah DKI Jakarta sangat tidak efektif.
2.   Kebakaran hebat yang terjadi di toko swalayan membuat macet daerah sekitar.

Kata-kata seperti anti-, non-, sub-, poli-, ultra-, supra-, juga ditulis serangkai dengan kata mengikuti. Contohnya:
1.    Dhea menyelesaikan pendidikannya di Politeknik Negeri Jakarta.
2.    Ia menyebut dirinya bahwa ia antinarkoba.

Gabungan dua kata yang diapit oleh awalan dan akhiran juga ditulis serangkai. Contohnya:
1.    Kiki memberikan pertanggungjawaban kepada Selvi, karena telah menghancurkan handphone miliknya.
2.    Ketidakhadiran Andi dalam ujian akhir membuat ia mengulang pelajaran di semester depan.

Kata-kata yang harus ditulis serangkai ialah: padahal, daripada, barangkali, sekaligus, apabila, bilamana, jikalau, andaikata, manakala.


4.            Penulisan Bilangan
Bilangan ada yang harus ditulis dengan angka, ada yang harus ditulis dengan huruf. Bilangan yang menunjukan tahun, jam, tanggal, nomor rumah, harus ditulis dengan angka. Bilangan yang menunjukkan jumlah dari satu sampai sembilan ditulis dengan huruf, jumlah seperti “dua juta rupiah” dapat ditulis dengan huruf, kecuali di dalam tabel atau grafik. Dalam tabel atau grafik jumlah satu sampai sembilan ditulis dengan angka.
Disamping itu jumlah seperti uang, luas tanah, berat suatu benda, jarak antara suatu tempat dengan tempat lain, singkatnya jumlah yang menyatakan ukuran dengan timbangan, selalu ditulis dengan angka, atau kadang ditulis dengan angka tetapi juga disertai dengan huruf yang ditaruh diantara tanda kurung.
Dalam penulisan jumlah, ukuran dan timbangan digunakan juga tanda titik dan koma. Singkatan seperti Rp (rupiah), kg (kilogram), m (meter), lt (liter) tidak perlu ditulis dengan tanda titik. Tanda titik digunakan pada jumlah satuan ribuan.
Bilangan tingkat dapat dinyatakan dengan huruf, dengan angka, dan dengan huruf dan angka. Misalnya kelima dapat ditulis keempat atau ke-5 atau V, abad ke-21 dapat ditulis abad XX1. Jadi awalan ke- hanya digunakan apabila dihubungkan dengan angka Arab. Angka Romawi tanpa awalan ke- sudah menyatakan tingkat.
Dalam kuitansi atau surat-surat yang mempunyai kekuatan hokum jumlah yang ditulis dengan angka masih disertai jumlah yang ditulis dengan huruf yang ditulis diantara tanda kurung.

5.            Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), dan petik (“..”)

a.      Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai untuk menandai berakhirnya kalimat. Disamping itu tanda titik digunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab. Singkatannya yang terdiri dari huruf-huruf kapital, seperti SMP, SMA, ABRI tidak menggunakan titik. Singkatan dengan huruf kapital yang merupakan gelar yang diletakkan dibelakang nama tetap menggunakan titik dibelakang tanda koma tersebut.
Contoh :    BAB II pada bagian 5.2 dalam buku Pengantar Manajemen membahas tentang Perubahan Kurs.
Prof. Dr. Hartanto bekerja di RS. Triadipa.

b.      Tanda Koma (,)
Tanda koma digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan dalam suatu kalimat. Tanda koma sering digunakan setelah seruan. Contohnya:
1.      Walaupun ia lelah, ia tetap melakukan pekerjaan tersebut.
2.      Namun, pada tahun berikutnya ia harus memperbaiki motor itu lagi.
Tanda koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata tetapi, ataumelainkan. Contohnya:
1.      Yang pergi bukan ayah, melainkan kakek.
2.      Pagi tadi mendung, tetapi di siang hari panas.


c.       Titik Koma (;)
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh:
·         Malam semakin larut; kami belum selesai juga
·         Semua murid diperlakukan sama; tidak ada murid yang dianak emaskan.
Contoh penggunaan yang tidak tepat:
·         Malam semakin larut kami belum selesai juga
·         Semua murid diperlakukan sama tidak ada yang dianak emaskan
Tanda titik koma juga digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.
Contoh:
·         Siska membeli pensil,buku,tas ,dan penghapus; ina membeli baju,celana ,dan kemeja
·         Ayah mengurus tanaman ;ibu memasak didapur;adik belajar bahasa Indonesia
Contoh penggunaan yang tidak tepat:
·         Siska membeli pensil,buku,tas ,dan penghapus ina membeli baju,celana ,dan kemeja
·         Ayah mengurus tanaman ibu memasak didapur adik belajar bahasa Indonesia.
d.      Titik Dua(: )
Tanda titik dua dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian.
Contoh:
Ina membeli alat tulis seperti: buku,pensil, dan pulpen.
kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi,meja,dan lemari
Contoh penggunaan yang tidak tepat:
Ina membeli alat tulis buku,pensil, dan pulpen
kita sekarang memerlukan kursi,meja,dan lemari
Tanda titik dua juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi sebagai berikut:
Ketua                 :  Lukman Hakim
Wakil ketuan      :  Muhammad Bayu Samudra
Sekertaris           :  Sheila Nur Triana
e.       Tanda Petik (“_”)
Tanda petik dalam tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf miring. Penggunaan tanda petik dalam petikan langsung tidak dicetak dengan huruf miring, melainkan tetap dicetak dengan suatu majalah pun tanda petik itu tetap digunakan. Dalam karangan tercetak tanda petik juga digunakan untuk menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya.
Contoh:
·            Kata Lili ,”tunggu sebentar”.
·            Karna warna kulitnya hitam ,Budi mendapat julukan “Si Hitam”
Contoh penggunaan yang tidak tepat:
Kata Lili ,tunggu sebentar
Karna warna kulitnya hitam ,budi mendapat juluka Si Hitam.
6.            Tanda – Tanda Baca yang lain
Tanda–tanda baca yang lain ialah tanda pisah (-), tanda elipsis (…), tanda tanya (?), tanda seru  (!), tanda kurung  ( ), tanda kurung siku ([ ]), tanda garis miring  (/)  dan tanda penyingkat/apostrof  (‘)
Tanda pisah (-) dipakai diantara dua bilanga atau tunggal yang berati  sampai dengan atau diantara dua nama kota :
Contoh:
·         2000 – 2015
·         Depok – Jakarta
Tanda (-) tidak dipakai bersamaan perkataan dari dan antara
Contoh :
·         Dari halaman 13 sampai 25, bukan dari halaman 13 – 25
·         Anatar tahun 2000 dan 2015 , bukan 2000 – 2015-04-01
Tanda elips (…) digunakan untuk menandai tuturan yang terputus-putus.
Contoh:
·         Kalau begitu ……ya , marilah kita belajar bersama
·         Morfem ialah ….bentuk bebas yang terkecil
Tanda tanya digunakan untuk menandai kalimat tanya dan diletakan di akhir kalimat.
Contoh:
·         Kapan ia pergi?
·         Siapa nama kamu ?
Tanda tanya yang ditaruh di antara tanda kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau kesangsian.
Contoh:
·         Ia dilahirkan pada tahun 1896 (?)
·         Uangnya sebanyak sepuluh juta rupiah(?) telah hilang
Tanda seru digunakan untuk menandai seruan/perintah/panggilan
·         Pergi sekarang juga !
·         Merdeka !
Penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan ilmiah atau ensiklopedi. Tanda kurung juga digunakan untuk mengapit penjelasan atau keterangan.
Contoh :
·         Adi membuat SIM(surat ijin mengemudi)
·         Anto menjadi anggota DPR(dewan perwakilan rakyat)
Tanda kurung siku digunakan sebagai tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf , kata, atau kelompok kata yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut.
Contoh :
·         Si Bintang Men[d]engar bunyi gemerisik
Tanda garis miring digunakan dalam penomoran surat.
Contoh :
·         No .18/pk/2000
·         Jalan Kelinci II/12
Untuk menunjukkan tahun anggaran atau tahun kuliah.
·         Contoh : 2003/2004 Garis miring berarti juga tiap-tiap atau per.
·         Contoh : Rp2500/orang
Tanda penyingkat atau apostrof (‘) digunakan untuk menunjukan adanya bagian –bagian yang dilesapkan.

Sumber: http://muhammadmuas.blogspot.co.id/2015/04/bab-iii-ucapan-dan-ejaan.html
http://edigunawan01.blogspot.co.id/2013/04/ucapan-dan-ejaan-bahasa-indonesia.html

0 komentar: